"PRAKATA REDAKSI"

Salam Alumnus,

Selamat Tahun Baru 2015

VIVA UNSOED





"Jack Taroub" Oleh Agus Brenk


PEMBUKAAN SANG DALANG  DOK…DOK…DERODOG…DOG
Kisah yang terkenal ini  berasal dari Jawa Tengah ini dari dahulu kala dipercaya kalau keturunan Jaka Tarub dan Nawang Wulan menjadi raja-raja tanah Jawa. Kalau  di Jawa Timur, Jaka Tarub lebih dikenal dengan nama Aryo Menak, sedangkan  Nawang Wulan dikenal dengan nama gaulnya yaitu Tunjung Wulan.
Dengan tidak mengurangi substansi legendanya…ijinkanlah Sang Dalang merubah, nama serta gambaran ceritanya disesuaikan dengan kondisi jaman huedan tenan…..o o o …..dog dog derodog….


Alkisahnya demikian...dog derog dog dog dog...
Nalika jaman bendu di sekitaran gunung Slamet, ada sebuah padepokan, ada seorang pemuda yang agak lumayanlah baik dari sisi jeleknya serta nggilani dan ngisin-ngisininya, namun punya sedikit kelebihan dalam ilmu kaspo mengkaspo. Pemuda yang tidak mitayani tersebut di padepokan dikenal dengan jejulukan Sang “Jack Caspo”, Ia sering keluar masuk lingkungan padepokan bukan untuk menimba ilmu kanuragan seperti santri-santri lainnya namun semata-mata hanya untuk agar wawasan perkaspoannya bisa lebih bertambah dan meningkat,… gile bener nih si Jack ini…..
Satu waktu saat lagi musim-musimnya pendadaran di padepokan untuk menguji tingkat kemampuan para santri, Si Jack tetap saja kluntang klantung di sekitaran padepokan, hingga suatu hari dari kejauhan ia mendengar sayup-sayup suara santriwati sedang bercakap dan bercanda. Terdorong oleh rasa penasaran, Si Jack menuju suasana keramaian itu, blaik…..tenan jebulnya sumber keramaian itu adalah tujuh santriwati yang wuihh men …cantik-cantik and amboy-amboy..hiih..siapapun lelakinya pasti penasaran judulnya…. Yang gipok-gipoknya atau pura-puranya mereka lagi belajar bersama  dan tak lupa sambil banyak bercanda ria-nya.
Dengan gaya “don juannya”, Si Jack seperti biasa mendekat dan menyapa serta menerapkan ilmu sirep perkaspoannya……”huh…h .., arek ayu ayu kok di jarno ae, rugi rek” Pikir si Jack.
Di tengah asiknya berkaspo, ia melihat beberapa buku-buku para santriwati tersebut yang tergeletak berserakan, yang ahkirnya timbul niat "ngeres"nya, setelah memilih-milih ia mengambil salah satu buku yang bersampul bintang pilem ….dan kemudian sst… ia sembunyikannya.
Beberapa saat berlalu kala para santriwati sudah hendak kembali ke padepokan enam dari mereka dengan gesit  mengambil peralatan belajar padepokannya masing-masing, lalu werrrrrrrrr………..pergilah masing-masing dengan kendaraanya, ya ada yang ngojek,.becak, atau bahkan ada yang naik angkot B 12 - Baturaden-Terminal,..werrrrrrrr…..weerrrrrrrr.
Terhenyak, barulah si Jack sadar kalau gadis-gadis tadi adalah para “bunga padepokan”. Hingga akhirnya terdengar teriakan dan sesenggukan  seorang santriwati tadi yang tertinggal…tidak bisa ikut werrrrrrrrr….werrrrrrrrrr…… karena kehilangan salah satu buku tugasnya ..dan kemudian menangislah ia tersedu-sedu, sakno banget pokoknya………….
Sambil ngedumel Santriwati tadi berbisik dan berjanji “Bila ada yang menemukan buku tugas padepokanku, bila laki-laki akan kujadikan calon suami alias (pacar) dan bila perempuan akan kujadikan saudara,” sumpah sang santriwati.
Dasar Si Jack, dalam kesusahan dan ngedumelnya si santriwati tadi eh… si Jack malah girang gembirang mendengarnya…. “Ha ha kutuk marani sunduk tenan iki” pikir si Jack, serta merta ia segeralah menampakkan dirinya dan pura-puranya menghibur sang santriwati tadi. Untuk pura-puranya mewujudkan niat tulusnya ia memberikan foto copyan buku yang telah ia ambil untuk dipakai mahasiswi sebagai pengganti bukunya yang hilang, sedangkan buku aslinya tetap si Jack sembunyiin supaya ia tak pergi meninggalkannya.
Akhirnya sang gadis yang ternyata berjuluk “Tawang Bulan” atau di panggil dengan nama si Tawang kemudian memenuhi sumpahnya dan singkat cerita pula menjadi pasangan kekasih  dengan si Jack Tendo, wow…w…muantab.
Singkat cerita pula, mereka berdua sudah kaya Mimi lan Mintuno , runtang-runtung kemanapun berada mereka berdua selalu bersama….kaya Tante Titik Sandora dan Oom Muchsin Alatas, .. mesra banget deh pokoknya dan selama itu mereka berdua terutama si Jack hidupnya bahagiaaaaaa .
Namun setelah beberapa lama berpacaran, terusiklah rasa ingin tahu si Jack mengenai rahasia apa yang dimiliki  si Tawang Bulan, sehingga ia kayanya kok sayang buanget begitu lho dengan si Jack…….
Suatu hari si Tawang waktu hendak ke padepokan,  ia berpesan pada si Jack supaya menjaga tasnya dan jangan sekali-sekali membukanya,…. namun larangan untuk membuka tas membuat si Jack penasaran dan melalaikan pesan si Tawang.., rasa penasaran yang sudah dipendamnya sejak lama akhirnya membuatnya melanggar larangan yang sudah dipesankan.
Dibukanya tas si Tawang yang ternyata di dalamnya terdapat diary (buku harian) si Tawang, dengan nakalnya dibacanya satu persatu halaman demi halaman, hingga akhirnya ia sungguh terhenyak Ooooo a l a h hh…. rupanya selama ini si Tawang ini hanya menyenangkan hatiku saja to tidak sepenuh hatinya membutuhkan dirinya.. tidak sepenunhya Lope si Jack,  walau si Jack I Lope yu Pull…nya setengah mati.. …o alah nasib…nasib…..”hik hik hik” tangis si Jack. 
Ketika si Tawang kembali dan menemukan tasnya terbuka serta dilihatnya buku Diary-nya agak kusam karena bekas habis dibuka,… apalagi ditumpukan meja si Jack tak sengaja ia menemukan bukunya yang dulu ilang……betapa kaget setengah matinya ia eh nggak tahunya dan jebulnya ternyata si cecunguk init a yang ndelikkan buku aku…………..
“Jackkkkkkkkkk……….!!!!!!!!!”….”Kesinilah KAU!!” teriaknya dengan gaya marah-marahnya,…..
“Ada apa Nyai???”..kata si Jack,….memelas……
“Nggak Ucah banyak nanya…..sekarang kita P U T U S” ucap si Tawang
…”hek …apa-apaan ini”…. Dengan Melas nya si Jack
 “Pokoknya ….Nggak Ucah banyak nanya…..sekarang kita P U T U S” ucap si Tawang sekali terus Werrrrrrrrrr werrrrrrrrrrrrrrrr werrrrrrrrrrrrrrrr……………….pergi deh, tak tahulah kemana dia……
“ Hilang.. permataku…hilang harapanku…” tangis si Jack sambil menyanyi.
Si Jack sudah berusaha dan memohon dengan sangat agar si Tawang tidak meninggalkannya, namun sudah takdir si Tawang untuk kembali ke Kampungnya dan berpisah dengan si Jack.
“Kenanglah aku ketika melihat bulan. Aku akan menghiburmu dari atas sana,” kata Tawang, sebelum pergi….. Ia pun kemudian werrrrrrrrrrrrrrrr ….werrrrrrrrrrrrrr …werrrrrrrrrrr, meninggalkan si Jack yang menangis dalam penyesalan……nasib…….nasib.


Foot Note :
*"Kaspo" dalam "kamus bahasa suroboyo" karangan Henri Nurcahyo berarti "Omong kosong/membual"
*Cerita ini hanyalah rekayasa semata.

Form Sumbangan Artikel, Konsultasi, Kritik & Saran Anda


Nama
Email
Judul
Artikel/Uraian
Image Verification
captcha
Masukkan Kode di Sebelah Ini:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]